Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Mengenal Hama Penyakit Cengkeh

Hama Penyakit Cengkeh

HAMA
1. Penggerek Batang
Penggerek batang yang menyerang tanaman cengkeh adalah Nothopeus sp. Hama ini meletakkan telurnya pada lekukan kulit batang tanaman.
Gejala Serangan

Gejala Serangan yang ditimbulkan oleh penggerek Nothopeus sp ditandai adanya lubang-lubang pada batang tanaman, dari lubang keluar cairan kental bercampur kotoran hama. Daun muda berubah kekuningan, rontok dan akhirnya pucuk daun mati. Jika tidak dikendalikan hama ini dapat menyebabkan kematian, karena asupan makanan terganggu.

Cara Pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan antara lain menutup lubang bekas gerekan dengan pasak kayu serta memusnahkan telur-telur yang menempel pada kulit. Pengendalian kimiawi dengan memasukkan insektisida sistemik berbahan aktif asefat ke dalam lubang gerekan kemudian ditutup dengan pasak kayu. Dapat pula menaburkan insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran dengan dosis 115-150 g/pohon. Interval 3 bulan sekali.

2. Penggerek Cabang

Penggerek cabang yang menyerang tanaman cengkeh adalah Hyleborus sp., dan Ardela sp. Hama Hyleborus sp. merupakan kumbang berukuran kecil berwarna hitam, kumbang jantan tidak mempunyai sayap dan ukurannya lebih kecil daripada serangga betina. Sedangkan Ardela sp. merupakan ngengat, ngengat jantan berwarna cokelat keputihan, betina berwarna merah muda keputihan. Larva ngengat ini berwarna putih keabu-abuan.
Gejala Serangan

Gejala Serangan yang ditimbulkan oleh kedua penggerek ini ditandai adanya lubang-lubang pada permukaan kulit cabang yang mengakibatkan cabang mudah patah, lemah, tunas mati, daun dan ranting akhirnya mengering. Lubang-lubang tersebut tertutup kotoran dan serbuk kayu sisa gerekan yang dijalin dengan serat halus. Serangan parah menyebabkan cabang mati.

Pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama penggerek cabang ini sama seperti pada penggerek batang.

3. Penggerek Ranting

Penggerek ranting yang menyerang tanaman cengkeh adalah Coptocercus sp. Serangga ini berupa kumbang berwarna hitam, sedangkan larvanya berwarna kuning kecokelatan.

Gejala serangan

Gejala Serangan yang ditimbulkan oleh penggerek Coptocercus sp. ditandai pada permukaan ranting terdapat lubang-lubang gerekan yang berdiameter kira-kira 1,8 mm. Serangan parah mengakibatkan ranting dan daun mati.

Cara pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif alfa sipermetri, asefat, profenofos, atau metomil dengan dosis sesuai pada kemasan ke seluruh bagian tanaman. Interval 10 hari sekali.

4. Kutu Daun

Kutu daun yang menyerang tanaman cengkeh adalah Coccus viridis. Hama ini biasanya bersembunyi di permukaan bawah daun, berwarna hijau, menyerang daun dan ranting yang masih muda.
Gejala serangan

Gejala Serangan yang ditimbulkan oleh Coccus viridis ditandai dengan mengeringnya ranting dan daun tanaman, bunga banyak yang rontok karena hama ini menyerang dengan cara menghisap cairannya. Selain menyerang tanaman muda, hama ini juga menyerang tanaman dewasa.

Cara pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini diantaranya adalah dengan memusnahkan ranting yang terserang, penyemprotan insektisida berbahan aktif alfa sipermetri, asefat, profenofos, metomil atau imidakloprid dengan dosis sesuai petunjuk pada kemasan. Interval 10 hari sekali.

5. Perusak Daun

Perusak daun yang menyerang tanaman cengkeh adalah Anthriticus sp. dan Carea Angulata. Hama Anthriticus eugeniae adalah kutu hijau, sedangkan Carea Angulata berupa ulat.
Gejala serangan

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Anthriticus sp. ditandai dengan adanya bintik-bintik pada bagian tepi dan tengah daun karena bekas hisapan serangga daun cengkeh. Hama ini menyerang tanaman pada malam hari.
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Carea Angulata ditandai dengan adanya bekas gigitan ulat pada daun yang terserang, ulat ini menyerang dengan cara memakan daun. Populasi tinggi menyebabkan daun gundul.

Cara Pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kedua jenis hama ini adalah dengan melakukan pemangkasan untuk menjaga kelembaban di sekitar pertanaman, penyemprotan insektisida berbahan aktif alfa sipermetri, asefat, profenofos, atau metomil dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan. Interval 10 hari sekali. Untuk pengendalian kutu Anthriticus sp penyemprotan terbatas pada bagian tanaman yang terserang, sedangkan pada ulat Carea angulata diutamakan pada saat populasi larva masih muda.

6. Kepik

Kepik yang menyerang tanaman cengkeh adalah Helopeltis sp. Hama ini menyerang bagian pucuk daun dan daun muda.
Gejala serangan

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Helopeltis sp ditandai dengan gugurnya daun muda dan mati pucuk daun.

Cara pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, karbosulfan, profenofos, atau imidakloprid dengan dosis sesuai pada kemasan. Interval 10 hari sekali.

PENYAKIT
1. Mati Bujang

Penyakit mati bujang yang menyerang tanaman cengkeh adalah bakteri Xylemlimited. Bakteri ini menyerang perakaran dan ranting-ranting muda.

Gejala serangan

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Xylemlimited ditandai dengan gugurnya daun dan matinya ranting tanaman.

Cara pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan penyemprotan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin, streptomisin sulfat, kasugamisin atau asam oksolinik dengan dosis sesuai pada kemasan. Interval 1 bulan sekali.

2. Penyakit Cacar Daun

Penyakit cacar daun yang menyerang tanaman cengkeh adalah cendawan Phyllostica sp. Cendawan ini menyerang semua fase pertumbuhan mulai dari pembibitan sampai tanaman dewasa. Bagian yang terserang biasanya daun dan buah cengkeh.

Gejala serangan

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Phyllostica sp ditandai dengan munculnya bercak berbintil hitam menggelembung seperti cacar pada bagian atas daun, kemudian daun menggugurkan diri.

Cara pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan sanitasi lingkungan, memusnahkan tanaman yang terserang, penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif karbendazim, benomil atau zineb dan fungisida kontak berbahan aktif propineb, mankozeb, atau maneb dengan dosis sesuai pada kemasan. Interval 10 hari sekali.

3. Penyakit BPKC (Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh)

Penyakit BPKC yang menyerang tanaman cengkeh adalah bakteri Pseudomonas syzygii. Bakteri ini menyerang tanaman dewasa melalui vektor atau perantara. Vektor dari penyakit ini adalah serangga Hindola sp.

Gejala serangan

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Pseudomonas syzygii ditandai dengan menguningnya daun yang kemudian berguguran, ranting-ranting dan cabang mati diikuti layu mendadak. Serangan parah menyebabkan kematian.

Cara pengendalian

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan melakukan sanitasi lingkungan (memusnahkan tanaman yang terserang), secara kimiawi menggunakan bakterisida golongan antibiotik berbahan aktif oksitetrasiklin, streptomisin sulfat, kasugamisin atau asam oksolinik. Kemudian mengendalikan serangga vektor menggunakan insektisida berbahan aktif asefat, lamda sihalotrin, profenofos, kartophidroklorida atau karbofuran. Dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan. Interval 1 bulan sekali.

4. Bercak Daun

Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cengkeh adalah cendawan Cylindrocladium sp. Jamur ini menyerang bagian daun tanaman.

Gejala serangan
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Cylindrocladium sp ditandai dengan munculnya bercak coklat kehitaman pada daun yang merupakan spora dari cendawan.

Cara pengendalian
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metil tiofanat, atau karbendazim dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb, propineb, atau tiram dengan dosis sesuai pada kemasan.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit : Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan, jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut. Tanaman cengkeh merupakan tanaman yang tahan terhadap serangan hama penyakit, sehingga penyemprotan dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Jadi penggunaan pestisida dapat dihemat

Jumat, 10 Mei 2013

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAHE


Hama dan Penyakit jahe

1. Hama
Hama yang dijumpai pada tanaman jaheadalah:
1) Kepik, menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang.2)Ulat penggesek akar, menyerang akar tanaman jahe hingga menyebabkan tanaman jahe menjadi kering dan mati.
3) Kumbang.
2. Penyakit

1) Penyakit layu bakeriGejala:
Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yang sakit itu berwarna gelap dan sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan dan yang paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yang dingin, genangan air dan kondisi tanah yang terlalu lembab.

Pengendalian:

· jaminan kesehatan bibit jahe;
· karantina tanaman jahe yang terkena penyakit;
· pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik;
· pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)2) Penyakit busuk rimpang
Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk.

Gejala :

Daun bagian bawah yang berubah menjadi kuning lalu layu dan akhirnya tanaman mati.
Pengendalian: 

penggunaan bibit yang sehat;
penerapan pola tanam yang baik;
penggunaan fungisida.3) Penyakit bercak daun 
Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka.

Gejala:
Pada daun yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercakbercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yang terserang bisa mati.

Pengendalian :

baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yang dijelaskan di atas.


3. Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya.


4. Pengendalian hama/penyakit secara organik

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah sbb: 

  • Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman.
  • Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.
  • Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
  • Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.
  • Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah: 

Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.

Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah
.
Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.

Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

Minggu, 05 Mei 2013

PENYAKIT PADA TANAMAN ANGGREK DAN CARA MENGATASINYA

PENYAKIT PADA TANAMAN ANGGREK DAN CARA MENGATASINYA



Bunga angrek yang indah dandiminatai banyak orang ini terkadang tak luput dari berbagai serangan penyakit. Ada banyak macam penyakit yang menyrangnya. Penangannya juga berbeda. Nah berikut adalah macam-macam penyakit angrek dan oenanganannnya. Silahkan memebacanya

a) Penyakit buluk
Sering terdapat di dalam media tanam, kultur spora cendawan ini terbawa oleh biji anggrek karena tutup botol tidak steril. Gejala: biji anggrek tidak mampu berkecambah dan persemaian dalam botol akan gagal; kecambah yang telah tumbuh kalau diserang cendawan ini akan mati/layu. Pengendalian: pada awal serangan media agar dikeluarkan dari botol, lalu botol ditutup kembali, dilakukan dengan steriil; kalau kecambah anggrek terlanjur besar, segera dikeluarkan dari botol dan dicuci dengan fungisida lalukecambah ditanam dalam pot.

b) Penyakit rebah kecambah
Merupakan penyakit anggrek selama masih dalam persemaian. Penyebaran penyakit ini lewat air. Gejala: semula berupa bercak kecil bening pada permukaan daun, lalu melebar, menulari ke atas sampai pada titik tumbuh pada tunas serta ke bawah hingga ujung akar, kecambah anggrek akan membusuk dan mati. Pengendalian: bibit yang sakit sebaiknya segera dibuang, dibakar sampai musnah. Pot dan kumpulan kecambah dikeringkan dan disemprot dengan fungisida.

c) Penyakit bercak coklat
Kecambah jenis Phalae-nopsis sangat peka terhadap bakteri ini, terutama pada cuaca sangat lembab. Infeksi melalui daun basah atau di bekas luka pada daun. Sentuhan daun yang sakit pada daun sehat dapat menularkan penyakit ini. Gejala: bercak kecil bening pada pucuk daun. Dalam beberapa hari dapatmeluas ke seluruh kompot, daun kecambah anggrek menjadi rusak dan mati. Penyakit ini sangat ganas, karena mematikan dan cepat menular. Pengendalian: sangat sulit penyakit ini pada awal serangan. Pada serangan yang parah, tidak ada jalan lain kecuali memusnahkan seluruh kecambah anggrek.

d) Penyakit bercak hitam
Pada tanaman anggrek yang, penyakit ini cepat menular malalui akar dan alat yang tidak sterill. Gejala: timbul warna coklat kehitaman pada bagian tanaman yang terserang. Mulai dari daun ke atas sampai ke tunas dan ke bawah hingga ujung akar. Tanaman terlambat tumbuh, kerdil dan mengakibatkan kematian. Pengendalian: bagian yang terserang dipotong dan dibuang atau disemprotkan fungisida; alat-alat potong disiram alkohol/dibakar sebelum digunakan.

e) Penyakit busuk akar
Penyebab: cendawan Rhizoctonia Solani. Gejala: akar leher membusuk mencapai rhizoma dan umbi batang, daun dan umbi batang menguning, berkeriput, tipis dan bengkok, tanaman kerdil dan tidak sehat. Pengendalian: semua bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang; bekasnya disemprot dengan fungisida (Benlate).

f) Penyakit layu
Penyebab: cendawan Fusarium Oxyporium. Gejala: mirip serangan penyakit busuk akar, namun pada rhizoma terdapat garis-garis, atau lingkaran berwarna ungu. Pada serangan berat, seluruh rizhoma menjadi ungu, diikuti pembusukan pada umbi batang, tanaman sangat tidak sehat. Pengendalian: bagian yang terserang dibuang lalu bekasnya disemprotkan Benlate. Tanaman segera dipindahkan ke media tanam baru, yang masih segar dan bersih. Usahakan terdapat aliran udara yang lancar di sekitar tanaman.

g) Penyakit busuk
Penyebab: cendawan Sclerotium Rolfsi. Gejala: terdapat bintil-bintil kecil berwarna coklat pada bagian tanaman yang terkena penyakit. Pengendalian: bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang. Mediatanaman dan seluruh pot didesinfektan dengan larutan formalin 4 % ataupun fungisida/antibiotik Natrippene 0,5 % selama 1 jam.

h) Penyakit bercak coklat
Gejala: bercak coklat pada permukaan daun, lalu menyebar keseluruh bagian tanaman. Pengendalian: membuang semua bagian yang sakit, lalu semprotkan fungisida/ antibiotika Streptomycin atau Physan 20.

i) Penyakit busuk lunak
Penyebab: bakteri Erwinia Cartovora. Gejala: daun dan akar membusuk serta berbau. Penyakit ini cepat sekali meluas namun khusus pada rhizoma dan umbi batang, penyebarannya agak lambat. Penanggulangan: peralatan kebun harus steril, bagian yang sakit dipotong dan dibuang. Semprotkan Physan 20, pot tanaman disemprot dengan formalin 4 %
.
j) Penyakit bercak bercincin
Penyebab: virus TMVO (Tobacco Mozaic Virus Odontoglos-sum). Gejala: timbul lingkaran atau garis-garis kekuningan pada permukaan daun. Pengendalian: hanya dengan pencegahan yakni membuang bagian tanaman yang sakit serta menstrerilkan semua alat potong.

k) Penyakit Cymbidium
Penyebab: virus Mozaic Cymbidium. Gejala: semula berupa bercak kekuningan lalu muncul jaringan mati berbintik, bergaris atau lingkaran. Khusus pada Cattleya, bercak tadi berwarna coklat atau hitam cekung. Kadang ada gejala kematian jaringan di tengah daun yang dilingkari jaringan normal. Daun tua banyak sekali menunjukkan adanya bintik jaringan yang mati. Pengendalian: hanya bersifat pencegahan yaitu membuang bagian tanaman yang sakit, serta mensterilkan segala alat yang dipakai.

l) Penyakit busuk hitam
Penyebab: cendawan Phytopytora Omnivora. Gejala: muncul warna kehitaman pada pangkal daun, lalu melunak dan busuk, akhirnya daun mati. Pengendalian: semprotkan fungisida seperti Baycor Dithane M-45, Benlate, Ferban, Physan, Truban atau Banrot. Untuk yang berbentuk tepung gunakan dosis 2 gram/2 liter air.

Demikian macam penyakit angrek dan penanganannya, semoga bermanfaat bagi yang membacanya.

Sumber: Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS; anggrek.org; Direktoriat Budidaya Tanaman Hias Direktorat Jenderal Holtikultura; Iptek.net.