Tampilkan postingan dengan label jahe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jahe. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

MENGENAL JAHE SUNTI ATAU JAHE EMPRIT

Jahe sunti atau jahe emprit . Indonesia kaya akan tumbuhan rempah. Salah satu yang terbaik adalah Jahe. Dalam ilmu biologi, jahe dikenal dengan nama Latin Zingiber officinale. Sistem taksonomi menempatkannya dalam kelompok suku temu-temuan, monokotil dengan batang semu. Akar jahe berbentu rimpang (seperti umbi) yang dikenal juga dengan istilah Rhizoma. Jahe masih berkerabat erat dengan kunyit, temulawak, lengkuas, temu hitam dan masih banyak lagi lainnya. Pada dasarnya, jahe masih dibagi lagi ke dalam beberapa varian. Pembagian ini didasarkan pada bentuk rimpang dan juga warnanya. Meski dibagi, kandungan senyawa aktifnya kurang lebih sama. Adapun varian jahe antara lain jahe gajah atau badak, jahe emprit dan juga jahe merah. Di antara ketiga jenis jahe ini, jahe empritboleh jadi yang paling unik.

Ciri-Ciri Jahe Emprit



Jahe emprit atau Zingiber Majus Rumph, dikenal juga dengan nama jahe Sunti. Ciri utama jahe emprit terletak pada bentuk rimpangnya yang kecil, rata cenderung pipih dan tidak mengembung. Jahe jenis ini bisa ditemukan dalam warna putih, kuning dan dalam kondisi tertentu berwarna merah. Serat jahe emprit bertekstur lembut dengan aroma yang tidak tajam. Tetapi jahe emprit dilengkapai rasa yang jauh lebih pedas ketimbang jahe gajah atau badak. Kandungan gingerol, zingeron, dan shogaol yang dimiliki jahe emprit memang lebih tinggi ketimbang jahe gajah. Hal ini yang menyebabkan rasa pedasnya lebih dominan.

Secara umum, tanaman jahe emprit sama saja dengan jenis jahe lainnya. Sistem budidayanya juga sama, dikembangkan melalui metode vegetatif yakni stek pada tunas baru yang tumbuh di bagian rimpangnya. 

Pemanfaatan Jahe Emprit


Berdasarkan pada sifatnya, jahe emprit sering dijadikan bahan obat herbal dan bumbu makanan. Rasa pedasnya memang memberi sensasi hangat yang jauh lebih baik. Sayangnya, aromanya yang tidak sekuat jahe gajah membuat jahe emprit jarang digunakan untuk produk seperti permen jahe, jelly jahe, sirup jahe dan lain-lain. Jahe emprit (bersama jahe merah) paling populer digunakan sebagai bahan untuk membuat poroduk ekstrak oleoresin dan juga minyak atsiri. Produk ini dengan mudah bisa didapatkan di toko herbal dengan harga yang terjangkau. Jika Anda tidak takut repot, cobalah untuk meracik teh jahe dari dapur Anda sendiri. Air rebusan jahe emprit juga dikenal ampuh untuk menghangatkan badan serta mengoptimalkan kesehatan. Selamat mencoba!

Jumat, 10 Mei 2013

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAHE


Hama dan Penyakit jahe

1. Hama
Hama yang dijumpai pada tanaman jaheadalah:
1) Kepik, menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang.2)Ulat penggesek akar, menyerang akar tanaman jahe hingga menyebabkan tanaman jahe menjadi kering dan mati.
3) Kumbang.
2. Penyakit

1) Penyakit layu bakeriGejala:
Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yang sakit itu berwarna gelap dan sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan dan yang paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yang dingin, genangan air dan kondisi tanah yang terlalu lembab.

Pengendalian:

· jaminan kesehatan bibit jahe;
· karantina tanaman jahe yang terkena penyakit;
· pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik;
· pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)2) Penyakit busuk rimpang
Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk.

Gejala :

Daun bagian bawah yang berubah menjadi kuning lalu layu dan akhirnya tanaman mati.
Pengendalian: 

penggunaan bibit yang sehat;
penerapan pola tanam yang baik;
penggunaan fungisida.3) Penyakit bercak daun 
Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka.

Gejala:
Pada daun yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercakbercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yang terserang bisa mati.

Pengendalian :

baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yang dijelaskan di atas.


3. Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya.


4. Pengendalian hama/penyakit secara organik

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah sbb: 

  • Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman.
  • Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.
  • Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
  • Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.
  • Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah: 

Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.

Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah
.
Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.

Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.